Beranda » Tentang Kami » Sejarah Kampoeng Djamoe Organik (KaDO) Martha Tilaar

Sejarah Kampoeng Djamoe Organik (KaDO) Martha Tilaar
29 Dec 2013

PENDAHULUAN

Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang harus memacu upaya pembangunan di segala bidang demi memenuhi kebutuhan masyarakatnya yang hampir mencapai sekitar 250 juta jiwa. Namun demikian pembangunan yang tidak direncanakan dan tidak dilakukan secara bijak maka justru akan menyengsarakan masyarakat itu sendiri. Sehingga konteks pembangunan serasa menakutkan apabila dilakukan hanya untuk pemenuhan kebutuhan pribadi orang perorang tanpa mempertimbangkan dampak buruk yang ditanggung oleh masyarakat dan lingkungan.

Pada kenyataannya memang banyak kita lihat di sekitar kita bahwa dengan dalih untuk pelebaran jalan kendaraan, halal hukumnya memangkas pepohonan yang umurnya sudah puluhan bahkan ratusan tahun, halal pula hukumnya membabat hutan menguruk setu, danau, resapan hanya untuk perumahan mewah, dll. Akibat langsung yang dibebankan ke masyarakat adalah kurangnya produksi oksigen, banjir, tanah longsor, peningkatan suhu harian, kekeringan di beberapa daerah, berkurangnya berbagai jenis tanaman yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, makin sempitnya lahan untuk dimanfaatkan sebagai area bercocok tanam, merosotnya persediaan pangan masyarakat, dll, dll.

Tanpa ada yang menyadari, tanpa ada yang peduli, apabila kondisi yang demikian berlangsung terus dan terus, maka dapat kita bayangkan dampaknya bagi generasi mendatang, anak cucu kita. Indonesia yang merupakan ’Mega Biodiversity Country’ hanya akan tinggal kenangan. Julukan ’gemah ripah loh jinawe’ hanyalah cerita masa lalu. Sebutan negara agraris hanyalah slogan kosong yang telah lewat. Betapa kejamnya kita bila menelantarkan anugerah Tuhan yang maha besar ini hanya untuk kepentingan segelintir orang dan hanya sesaat.

Di lain pihak, industri yang bergerak di bidang pemanfaatan bahan alam juga semakin berkembang selaras dengan permintaan masyarakat modern akan produk-produk alami. Explorasi dan exploitasi sumberdaya alam semakin tak terkendali dengan meningkatnya industri hilir yang memerlukan pasokan bahan baku alami. Perusahaan kita, PT. Martina Berto, Tbk merupakan salah satunya yang bergerak di bidang industri kosmetika alami dan produk herbal dimana untuk memenuhi produksinya diperlukan bahan baku berupa tanaman OKA (obat, kosmetika, dan aromatik) yang dipasok dari petani maupun pengumpul. Selaras dengan perkembangan jaman, IKOT (industri kecil obat tradisional) dan IOT (industri obat tradisional) seperti halnya termasuk perusahaan kita, jumlahnya makin meningkat dari tahun ke tahun. Sehingga banyak diperlukan bahan nabati unt memasok kebutuhan industri tersebut. Apabila bahan baku tanaman tersebut hanya diambil dari alam tanpa adanya pembudidayaan, maka bukannya tidak mungkin ketersediaan di alam akan terkikis dan akhirnya punah. Beberapa jenis tanaman OKA sudah mulai sulit ditemukan keberadaannya di alam, apalagi jenis tanaman tertentu yang endemik di beberapa daerah saja. Para pengumpul semakin bergerak ke arah dalam pelosok hutan untuk mendapatkan bahan-bahan tertentu yang diminta oleh perusahaan, dan makin menekan keberadaan pertumbuhan tanaman tersebut. Sebut saja Pulasari (Alyxia reindwartii) yang dulunya merupakan bahan utama jamu dan dikenal luas oleh masyarakat Jawa, sekarang sudah tidak ada lagi dan sulit untuk menemukan tanaman tersebut. Masih banyak lagi jenis tanaman yang mulai terancam punah, seperti kedawung (Parkia biglobosa), Pulai (Alstonia scholaris), Purwoceng (Pimpinella pruacan), dll, dll.

Memperhatikan ketimpangan yang terjadi terhadap lingkungan tersebut maka ibu DR. Martha Tilaar sudah dari awal berkomitment untuk memikirkan pelestarian lingkungan Indonesia yang semakin hari semakin porak poranda, dan sekaligus ingin berbuat sesuatu walaupun dimulai dari kecil untuk bisa menyadarkan kembali kepada kita semua arti pentingnya menanam sebatang pohon ’The Power of Tree’ bagi keberlangsungan hidup manusia dan mensejahterakan masyarakatnya terutama yang bermukim di sekitarnya. Kebun Botani yang berisi berbagai jenis tanaman berkhasiat obat dan kosmetik di area Sawangan Depok seluas sekitar 7000 m2 adalah ide pertama beliau sebagai langkah awal untuk melestarikan kearifan budaya lokal dan sumberdaya hayatinya. Kebun botani ini disamping mempunyai nilai edukasi dan ilmiah karena di dalamnya terdapat berbagai informasi dan ilmu yang dapat dipelajari, juga berfungsi sebagai area pelestarian sumberdaya hayati yang dapat dimanfaatkan untuk sumber bahan baku obat untuk perawatan kesehatan masyarakat sekitar, dan yang tak kalah pentingnya adalah sebagai penyedia oksigen yang sekaligus penyerapan karbondioksida yang sangat bermanfaat untuk menanggulangi dampak negatif emisi gas buang dan pencemaran udara yang pada akhirnya akan mampu menekan lajunya pemanasan global (global warming).

Kampoeng Djamoe Organik (KaDO) di area Cikarang merupakan pengembangan selanjutnya dari pemikiran Ibu Martha Tilaar untuk dapat menciptakan kebun botani yang lebih luas lagi di area perkotaan dan kawasan industri. KaDO adalah kebun botani yang khusus mengelola dan melestarikan tanaman berkhasiat obat asli Indonesia yang sejak dirintis berdirinya lebih dari 10 tahun lalu oleh DR. Martha Tilaar memberikan dampak yang sangat baik bagi upaya pelestarian budaya, sumberdaya hayati dan sekaligus sebagai pusat pendidikan lingkungan bagi pelajar dan masyarakat dan juga merupakan paru-paru kota di area padat penduduk dan kawasan industri. Dengan koleksi sekitar 650 spesies tanaman obat, kosmetik, dan aromatik (OKA), kebun ini dikelola oleh para ahli pertanian serta didukung oleh Martha Tilaar Innovation Center (MTIC), KaDO sebagai pusat pendidikan lingkungan (center for environmental education) merupakan salah satu Kebun Botani di Indonesia yang dapat membantu menumbuhkan penyadaran lingkungan yang baik bagi masyarakat serta mendidik masyarakat petani untuk dapat berbudidaya secara baik dan berwawasan lingkungan melalui budidaya organik, serta turut mendukung pencapaian target milenium secara lebih cepat dan effectif.

KAMPOENG DJAMOE ORGANIK (KaDO) Martha Tilaar

Seperti telah diuraikan di atas, bahwa terciptanya KaDO adalah dilatarbelakangi oleh keprihatinan yang sangat dalam akan lajunya pengikisan kekayaan sumberdaya hayati Indonesia demi untuk pemenuhan kebutuhan pangan dan perumahan masyarakat serta untuk kepentingan ekonomi dan pembangunan, ibu DR. Martha Tilaar secara personal sebagai masyarakat warga negara Indonesia merasakan turut bertanggung jawab dan harus melakukan sesuatu untuk dapat membantu mengatasi permasalahan ini. Diawali dari sepetak lahan di daerah Sawangan, Depok pada tahun 1995, kami melakukan koleksi dan domestikasi berbagai jenis tanaman obat, kosmetik, dan aromatik (OKA) yang dikumpulkan dari tanaman liar yang sudah dikenal oleh masyarakat lokal sebagai bahan untuk perawatan kesehatan dan kecantikan. Dengan berbekal penggalian pengetahuan lokal dari berbagai daerah tentang perawatan kesehatan dan kecantikan secara alami berbasis tanaman, maka kami telah dapat mengumpulkan berbagai jenis tanaman OKA di area kebun Sawangan tersebut. Namun dengan makin banyaknya tanaman yang kami koleksikan serta dibudidayakan, maka sejak tahun 1997 kami berusaha untuk dapat membuka area pertanaman di wilayah Cikarang yang luasnya sekitar 10 ha.

Namun demikian pada kenyataannya membuka lahan baru untuk kebun botani di wilayah perkotaan dan kawasan industri tidaklah semudah yang kita bayangkan mengingat lahan baru tersebut awalnya bukanlah lahan untuk pertanian. Berbagai kendala menghadang di depan mata:

  • Kondisi lahan yang cukup marjinal untuk dapat disebut lahan pertanian

  • Perusakan lahan yang telah berlangsung cukup lama oleh masyarakat sekitar

  • Mikro klimat yang kurang mendukung untuk dapat menampung semua jenis tanaman OKA yang telah dikoleksikan di kebun Sawangan

  • Bervariasinya jenis tanaman OKA dengan habitat asal yang juga sangat bervariasi dari dataran rendah hingga tinggi

  • Terbatasnya sumber air untuk sarana irigasi yang sangat penting

  • Terbatasnya tenaga kerja yang ada terutama yang punya latar belakang bercocok tanam

  • Terbatasnya dukungan dana mengingat upaya ini dilakukan secara mandiri

Dengan berbekal ilmu dan niatan kuat untuk menghadapi tantangan ini serta dorongan semangat dari ibu Martha sendiri, maka dengan tekat pantang menyerah, setahap demi setahap kami berusaha untuk mewujudkan gagasan beliau yaitu sebuah kawasan hijau yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Berbagai langkah kami tempuh:

  • Perbaikan lahan sebagai media tanam merupakan upaya yang sangat berat untuk dapat membentuk lapisan top soil yang telah hilang akibat penggalian, serta pembersihan timbunan sampah dari masyarakat sekitar. Upaya ini memakan waktu hingga 3-4 tahun lebih.

  • Pengelolaan sumber air yang ada yang kualitasnya sangat buruk serta pembuatan kantong-kantong air untuk kepentingan pertanaman.

  • Aklimatisasi berbagai jenis tanaman yang telah kami koleksikan di area kebun Sawangan. Mengingat perbedaan mikro klimat yang cukup signifikan antara habitat asal dan habitat baru, maka upaya ini juga memerlukan tenaga ekstra kuat.

  • Penerapan konsep pertanian organik di area tengah kota yang cukup padat penduduk serta perkembangan pembangunan yang pesat perlu tahapan khusus dan memerlukan waktu untuk mendapatkan pertumbuhan tanaman yang sehat.

  • Diperlukan pengetahuan yang cukup untuk dapat melakukan riset aplikatif terutama di bidang perbanyakan tanaman dan pengelolaan pertumbuhannya serta ketepatan area dan media tanamnya.

  • Diperlukan tenaga professional untuk pengelolaan kebun botani secara keseluruhan, baik manajemen kebun maupun manajemen organisasinya.

By. Heru D. Wardana – Community Development

           

Kampoeng Djamoe Organik
Jl.Ciujung, Kawasan EJIP Pintu II,
Cikarang Selatan, Bekasi Jawa Barat
KaDO           : 0811 1710 076
Kedai Sehat : 0812 9875 4610

Tentang Kami
Produk